Minggu, 24 April 2016

Bukan tujuan, tapi makna yang tersirat dari sebuah perjalanan.

     Bagai sebuah usaha mencapai sesuatu. Kau akan terus mencoba, dan tidak akan berhenti sebelum kau mendapatkannya. Itulah apa yang dilakukan oleh seorang pejuang.

     Namun lebih daripada itu, dan memang bukan disitu letak kenikmatannya. Karena sebuah kesuksesan hanyalah merupakan sebuah puncak. Dan puncak adalah sebah dasar di ketinggian, bagai tiada akhir dalam hidup kecuali kematian. Karenanya, disaat kau telah mencapai tujuanmu, sebenarnya kau telah berhenti dari sebuah perjuangan. Dan kedataran hidup akan kembali melandamu, seperti sebelum kau berjuang.

     Yaa. Itulah yang dirasakan oleh para peseluncur aspal. Yang dirasakan oleh para penikmat perjalanan. Bagai seorang seniman, yang menciptakan suatu karya. Hasil karyanya hanya akan dinikmati oleh mata, mata, dan mata. Namun, kepuasan hakiki yang didapat oleh hati terletak pada sebuah 'proses' dimana sebuah karya itu diciptakan. 

     Kebanyakan orang menilai orang yang berkendara menggunakan motor itu kurang kerjaan! Kurang punya kehidupan nyata! Tapi bagaimana kenyataannya? Bukankah hidup itu tentang menikmati, dan bersyukur atas segala nikmat dan berkat yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita, sekumpulan makhluk yang bernama manusia?.

     Kami para petouring, menyusuri aspal bukan hanya untuk urak-urakan, show off, atau sekedar mengisi waktu luang kami. Tapi lebih daripada itu, kami menemukan arti hidup dalam setiap putaran roda kuda besi kami. Kami menemukan cinta kasih dalam setiap strip bahan bakar sepeda kami yang berkurang dalam setiap kilometernya. Kami benar-benar menikmati hidup, dan kami adalah para penikmat hidup.
     Persaudaraan adalah kata kunci kami. Kami mengenal setiap kode yang petouring lain isyaratkan. Kami belajar memahami satu sama lain. Meskipun tidak ada satupun kesamaan diantara kami. Tapi, bukankah perbedaan itu adalah seni? dan melalui aspal dan kuda besi, kami menemukan suatu integrasi penyama kami.

     Melalui sebuah jalan lurus, tikungan, tanjakan, dan turunan terjal, kami belajar dan mendewasakan diri kami sendiri. Sebuah jalan lurus membosankan, sambil melihat sekitar kami bersyukur! Disitulah letak sebuah keindahan tercipta. Sebuah pelajaran hidup bahwa keadaan datar tidaklah benar-benar datar jika kau pintar mensyukurinya. Sebuah belokan memberi kami pelajaran bahwa kami perlu untuk berkonsentrasi, memahami setiap perubahan dari kanan ke kiri, and vice versa.  
     
     Itulah beberapa dari jutaan pelajaran hidup yang bisa kami dapat hanya dengan berseluncur di atas aspal hitam. Hidup tentang belajar bukan? Selalu belajar, belajar, dan belajar dari segala permasalahannya, sehingga nantinya kita dapat survive jikalau menghadapi permasalahan yang sama dikemudian hari. Jangan menjadi seorang penghindar masalah, tetapi jadilah pemenang dari masalah-masalah yang ada!. Karena, jangan pernah melakukan sesuatu jika hal itu tidak memberikanmu sebuah pelajaran hidup. Seperti kata seseorang yang sangat saya sayangi. Begitulah. Sekian, dan salam tetot!



NVA's Single Fighter.

0 komentar:

Posting Komentar

Tell me something...